Rabu, 16 Maret 2011 16:45
Lima Bulan Bertugas, Aman dan Terkendali
Kurang lebih lima bulan melaksanakan tugas operasi pengamanan perbatasan (Pamtas) RI-PNG di wilayah Kabupaten Merauke, tak ada kendala signifikan yang ditemui jajaran Satgas Yonif 132/Bima sakti, Riau. Selain itu, pun selama berpijak di beranda terujung timur NKRI, banyak pengalaman serta kesan yang diperoleh punggawa baret hijau di Tanah Animha ini.
Batalyon infanteri (Yonif) 132/ Bima Sakti Bangkinang, Riau adalah salah satu satuan tempur organik milik Kodam I Bukit Barisan yang kurang lebih lima bulan ini, diamanahkan menggantikan Satgas Yonif 753/AVT Nabire dalam menjaga wilayah perbatasan RI-PNG di Kabupaten Merauke. Untuk wilayah Papua sendiri bukan medan tugas baru bagi prajurit Yonif 132/BS, pasalnya tahun 2002-2003 Yonif 132/BS pernah bertugas di wilayah Jayapura.
“Jadi untuk Papua ini bukan yang pertama kali, karena kami pernah tugas juga tapi di daerah Jayapura. Hanya saja saat itu saya belum jadi Danyon nya,”ujar Dan Satgas Yonif 132/BS, Letkol Inf M. Syeh Ismed yang didampingi Wadan Satgas, Kapten Inf Didik Efendi kepada Bintang Papua saat bincang-bincang di Komando Utama Satgas Yonif 132/BS Jalan Nowari, Rabu (16/3) sore.
Ismed menjelaskan, Satgas Pamtas yang dikomandonya ini berkekuatan 650 personel, yang mana mereka tersebar di 19 pos menyesuaikan 19 patok perbatasan yang berada diantara Kabupaten Merauke dan Papua New Guinea, yakni mulai dari daerah Muting hingga Kondo yang merupakan pos terjauh. Menjadi tentara yang diperintahkan bertugas di wilayah perbatasan Indoensia-PNG ini, lebih kepada sebuah pengabdian. Ujian selama di lapangan pun tidak ringan, seperti putusnya komunikasi dengan dunia luar hingga menaklukkan kondisi cuaca dan medan yang menantang. Berbicara soal logistik, memang menjadi masalah utama di perbatasan. Pasalnya, bila logistik tersendat akan sangat berpengaruh pada kinerja mereka dalam mengamankan batas-batas Negara.
“Tapi syukur alhamdulilah selama ini tidak ada kendala yang signifikan dalam masalah dorongan logistik ke pos-pos yang ada. Meski medannya cukup menantang, seperti kondisi jalan yang berlumpur, tapi kami masih bisa melakukannya dengan baik,”aku jebolan Akademi Militer 1993 ini.
Lebih tegas tugas pamtas yang dilakukan para bhayangkari Negara itu, diakui Ismed, merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi seorang anggota TNI. Karena itu, apapun kondisi lapangan dan segala keterbatasannya tidak berpengaruh bagi tugas yang diamanahkan ke jajaran Satgas Yonif 132/BS.
“Motto kami dalam bertugas adalah selalu tersenyum. Dengan senyum dapat meringankan beban tugas meskipun seberat apapun,” kata Ismed tersenyum.
Jika sebagian masyarakat mengenal tentara sebagai prajurit yang siap bertempur membela negara. Berpakaian loreng hijau dan selalu membawa senjata. Tapi ada kalanya prajurit TNI juga harus mengajar di sekolah yang minim guru, membantu masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dan, ini merupakan pengalaman bagi para prajurit ketika berada di medan tugas. Mengajar dilakukan karena daerah tempat mereka bertugas mengalami kekurangan tenaga guru. Begitupun dengan tenaga kesehatan, sehingga personel kesehatan yang berada di setiap pos acapkali menjadi tumpuan warga setempat untuk berobat.
“Jadi selain melaksanakan tugas pokok menjaga perbatasan, kami juga melakukan kegiatan dalam rangka pembinaan pendekatan serta membangun kebersamaan dengan masyarakat perbatasan maupun di daerah yang menjadi tanggungjawab kami. Sebab itu dengan modal ilmu yang dimiliki, ada anggota kami yang mengajar. Dan, masyarakat pun terkadang datang ke pos minta bantuan lainnya, seperti bahan makanan. Ya, bag kami selama kami bisa membantu dan tidak bertentangan dengan tupoksi TNI, ya akan dilakukan,” kata lelaki asal kota pantun Riau ini bijak.
Bagi ayah tiga orang anak itu, selama ini pihaknya selalu mengedepankan persuasif dalam segala hal agar tercipta kebersamaan yang baik dengan masyarakat. Dengan begitu, sambungnya, akan sangat berguna bagi keberadaan pihaknya saat bertugas maupun ketika meninggalkan tempat tugas yang menuai kesan baik bagi masyarakat yang ditinggalkan.
Ismed mengakui, sampai saat ini belum ada masyarakat yang menyerahkan senjata kepada pihaknya. Meski begitu, penggalangan tetap dilakukan tanpa paksaan dan kekerasan.
Mengingat masa tugas itu tak luput dari kejenuhan, sebab itu berbagai kegiatan pun digalakkan agar tidak terasa monoton dan kaku. Kegiatan yang dilakukan sendiri, kata Ismed, seperti berkebun, berternak dan bersosialisasi dengan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan positif. Selain itu, melihat Merauke yang rawan terhadap ancaman HIV dan AIDS, menurut Ismed, sebagai preventifnya semua kembali lagi pada keimanan dan ketaqwaan yang dimiliki masing-masing anggotanya. Dimana kata dia, iman dan taqwa merupakan bekal bagi seseorang untuk menghindari hal-hal negatif, salah satunya aktivitas yang bisa menyebabkan seseorang terinveksi virus mematikan itu.
“Tapi saya yakin anggota saya insya Allah semuanya aman, karena setiap saat mereka selalu diingatkan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Dan kami sendiri punya kegiatan keagamaan, baik itu yang sifatnya rutin; sholat berjamaah bagi yang muslim, yasinan dan lainya,”papar Ismed.
Sebelum mengakhiri, Ismed kembali berharap semua upaya dan keingingan pihaknya untuk mengamankan, meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua serta kegiatan positif yang dilaksanakan dengan tulus dan diselingi dengan penanaman nilai-nilai kewarganegaraan ini dapat menjadikan kesadaran masyarakat untuk bersatu padu membangun daerah perbatasan yang akhirnya melahirkan satu kekuatan benteng perbatasan yang siap menjaga kewibawaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya. (http://bintangpapua.com)



